Artikel Terbaru
Mail Instagram Pinterest RSS

LOKAKARYA NASIONAL USAID PRIORITAS: Menggali Miskonsepsi dan Usaha Mengatasinya dalam Pembelajaran Matematika


Foto 1: Full Team Work penyusun Adaptasi Modul Sekolah Praktik yang Baik dalam Lokakarya Nasional USAID PRIORITAS
 
Tidak jarang masih ada gap antara mathematics conception dan teacher conception. Jika yang terjadi demikian maka kita sebut misconception (miskonsepsi).  Miskonsepsi yang terjadi pada guru yang kemudian di sampaikan dalam proses pembelajaran di dalam kelas, maka terjadilah mistake. Jika hal ini dibiarkan terus menerus terjadi error pengetahuan yang diperoleh oleh siswa.

Gambar 1: misconception, mistake, and error dalam proses pembelajaran

USAID PRIORITAS melihat ini sebagai suatu yang menggangu terhadap pencapaian pendidikan di Indonesia. Melalui kegitan Lokakarya Nasional, Adaptasi Modul Praktik yang Baik yang berlangsung di Makasar dari tanggal 1-3 Juni 2016 dengan nara sumber dari berbagai propinsi di Indonesia. Produk yang dihasilkan dari lokakarya tiga hari ini adalah modul yang berbasis kontent matematika yang pilihan kemunculannya bisa berasal dari (1) miskonsepsi yang masih sering terjadi di dalam proses pembelajaran atau (2) kesulitan-kesulitan yang dialami oleh guru dalam pembelajaran suatu topik matematika.

Sebagai ilustrasi masih banyaknya miskonsepsi yang terjadi, berikut contoh kasus di lapangan sekaligus gambaran proses kerja penyusunan modul yang terjadi selama lokakrya.
Gambar 2: contoh problem yang menunjukkan terjadinya miskonsepsi tentang garis tinggi segtiga

Ketika problem ini coba diberikan pada jenjang mahasiswa matematika tingkat pertama, hasilnya sangat mengejutkan. Mereka hanya bisa melukiskan garis tinggi dengan benar hanya 1 sampai 2 dari 12 gambar segitiga yang disediakan, yaitu pada gambar pada pojok kiri atas. Hal yang sama juga terjadi ketika problem tersebut diberikan pada siswa jenjang SMP. Analisis kenapa bisa terjadi demikian, disajikan pada temuan-temuan di bawah ini.

Tim penyusun mencari di mana pangkal kesalahan sehingga terjadi hal demikian. Dalam ilustrasi di atas, temuannya mengerucut pada dua penyebab.
1. Buku-buku pegangan siswa dalam ilustrasinya hanya menampilkan seperti pada gambar di bawah ini.
Gambar 3: Ilustrasi yang disajikan dalam buku pegangan siswa atau oleh guru yang membentuk mindset dalam diri siswa

Ditambah lagi jika guru dalam kelas mengilustrasikan hal yang sama di papan tulis.
Mindset yang tertanam dalam siswa kecenderungannya akan mengikuti dengan apa yang sering dilihat.  Banyak kemungkinan yang disimpulkan dalam benak siswa. Sebagai contoh, alas selalu di bawah, tinggi adalah garis yang vertikal, dan selalu dalam interior segitiga,  di tengah atau hampir di tengah untuk titik D. Siswa akan dibingungkan jika segitiga yang ditampilkan adalah segitiga tumpul, karena memang belum pernah dilihatkan dalam buku atau dalam pembelajaran oleh guru di kelas. Siswa akan bingung jika alasnya bukan sisi yang berada di bagian bawah.

2. Definisi yang diberikan kurang lengkap.
Berikut definisi yang diberikan oleh buku-buku pegangan siswa
Garis Tinggi Segitiga adalah garis yang melalui salah satu titik sudut segitiga dan tegak lurus dengan sisi di depannya.

Tim penyusun merasakan definisi tersebut belum lengkap. Karena belum mengakomodasi untuk segitiga tumpul. Hal ini mengakibatkan siswa akan dibingungkan jika bertemu dengan segitiga tumpul, dalam melukiskan garis tingginya. Yang terjadi adalah "pemaksaan-pemaksaan" seperti pada segitiga lancip yang sering dilihat oleh siswa.

Tahap berikutnya adalah mencarikan solusi, sehingga dalam proses pembelajaran miskonsepsi dan kesalahan seperti ini dapat dihilangkan, yaitu dengan penguatan pada konten (mathematics content). Harapnnya, dengan kuatnya konten matematika, benarnya konsep matematika pada guru, maka misconception and mistake tidak akan terjadi lagi dalam pembelajaran matematika.

Penyusun modul terbagi dalam dua kelompok, yaitu tim penyusun modul adaptasi untuk jenjang SD yang difasilitasi oleh pa Asdar dari Universitas Negeri Makasar, dan bu Ika dari Universitas Negeri Surabaya.

Sedangkan tim penyususn modul adaptasi jenjang SMP di fasilitasi oleh pa Hery dari Universitas Negeri Semarang dan pa Asep dari Universitas Pendidikan Indonesia.
 


Masing-masing jenjang setidaknya meghasilkan 8 topik pilihan dalam modul tersebut yang nantinya akan di  modelkan oleh fasilitator dalam sesi pelatihan dengan guru-guru sekolah mitra USAID PRIORITAS.
Dalam proses pembuatan terjadi debat, diskusi, argumentasi secara akademik. Itulah yang mematangkan dan memperkaya modul tersebut nantinya. Terima kasih bapak/ibu nara sumber, kami belajar banyak dari pertemuan tiga hari tersebut. Khususnya juga kepada pa Ujang, tim Usaid Pusat yang mendampingi dengan seksama dan memberikan masukan serta koreksinya.

0 komentar:

Posting Komentar