Foto 1: Full Team Work
penyusun Adaptasi Modul Sekolah Praktik yang Baik dalam Lokakarya Nasional
USAID PRIORITAS
Tidak jarang masih ada gap
antara mathematics conception dan teacher conception. Jika yang terjadi
demikian maka kita sebut misconception (miskonsepsi).
Miskonsepsi yang terjadi pada guru yang
kemudian di sampaikan dalam proses pembelajaran di dalam kelas, maka terjadilah
mistake. Jika hal ini dibiarkan terus
menerus terjadi error pengetahuan
yang diperoleh oleh siswa.
Gambar 1: misconception, mistake, and error dalam proses pembelajaran
USAID PRIORITAS melihat ini sebagai suatu yang menggangu terhadap pencapaian pendidikan di Indonesia. Melalui kegitan Lokakarya Nasional, Adaptasi Modul
Praktik yang Baik yang berlangsung di Makasar dari tanggal 1-3 Juni 2016 dengan
nara sumber dari berbagai propinsi di Indonesia. Produk yang
dihasilkan dari lokakarya tiga hari ini adalah modul yang berbasis kontent
matematika yang pilihan kemunculannya bisa berasal dari (1) miskonsepsi yang
masih sering terjadi di dalam proses pembelajaran atau (2) kesulitan-kesulitan
yang dialami oleh guru dalam pembelajaran suatu topik matematika.
Sebagai ilustrasi masih banyaknya miskonsepsi yang terjadi, berikut contoh kasus di lapangan sekaligus gambaran proses kerja penyusunan modul yang terjadi selama lokakrya.
Gambar 2: contoh problem yang menunjukkan terjadinya miskonsepsi tentang garis tinggi segtiga
Ketika problem ini coba diberikan pada jenjang mahasiswa
matematika tingkat pertama, hasilnya sangat mengejutkan. Mereka hanya bisa
melukiskan garis tinggi dengan benar hanya 1 sampai 2 dari 12 gambar segitiga yang
disediakan, yaitu pada gambar pada pojok kiri atas. Hal yang sama juga terjadi ketika problem tersebut diberikan pada siswa jenjang SMP. Analisis kenapa bisa terjadi demikian, disajikan pada temuan-temuan di bawah ini.
Tim penyusun mencari di mana pangkal kesalahan sehingga terjadi hal demikian. Dalam ilustrasi di atas, temuannya mengerucut pada dua penyebab.
1. Buku-buku pegangan siswa dalam ilustrasinya
hanya menampilkan seperti pada gambar di bawah ini.
Gambar 3: Ilustrasi yang disajikan dalam buku pegangan siswa atau oleh guru yang membentuk mindset dalam diri siswa
Ditambah lagi jika guru dalam kelas
mengilustrasikan hal yang sama di papan tulis.
Mindset yang tertanam dalam siswa
kecenderungannya akan mengikuti dengan apa yang sering dilihat. Banyak kemungkinan yang disimpulkan dalam
benak siswa. Sebagai contoh, alas selalu di bawah, tinggi adalah garis yang
vertikal, dan selalu dalam interior segitiga, di tengah atau hampir di tengah untuk titik D. Siswa akan dibingungkan jika segitiga yang ditampilkan adalah segitiga tumpul, karena memang belum pernah dilihatkan dalam buku atau dalam pembelajaran oleh guru di kelas. Siswa akan bingung jika alasnya bukan sisi yang berada di bagian bawah.
2. Definisi yang diberikan kurang lengkap.
Garis Tinggi Segitiga adalah garis yang melalui salah satu titik sudut segitiga dan tegak lurus dengan sisi di depannya.
Tim penyusun merasakan definisi tersebut belum lengkap. Karena belum mengakomodasi untuk segitiga tumpul. Hal ini mengakibatkan siswa akan dibingungkan jika bertemu dengan segitiga tumpul, dalam melukiskan garis tingginya. Yang terjadi adalah "pemaksaan-pemaksaan" seperti pada segitiga lancip yang sering dilihat oleh siswa.
Tahap berikutnya adalah mencarikan solusi, sehingga dalam proses pembelajaran miskonsepsi dan kesalahan seperti ini dapat dihilangkan, yaitu dengan penguatan pada konten (mathematics content). Harapnnya, dengan kuatnya konten matematika, benarnya konsep matematika pada guru, maka misconception and mistake tidak akan terjadi lagi dalam pembelajaran matematika.
Penyusun modul terbagi dalam dua kelompok, yaitu tim penyusun modul adaptasi untuk jenjang SD yang difasilitasi oleh pa Asdar dari Universitas Negeri Makasar, dan bu Ika dari Universitas Negeri Surabaya.
Sedangkan tim penyususn modul adaptasi jenjang SMP di
fasilitasi oleh pa Hery dari Universitas Negeri Semarang dan pa Asep dari
Universitas Pendidikan Indonesia.
Masing-masing jenjang setidaknya meghasilkan 8 topik pilihan
dalam modul tersebut yang nantinya akan di
modelkan oleh fasilitator dalam sesi pelatihan dengan guru-guru sekolah mitra
USAID PRIORITAS.
Dalam proses pembuatan terjadi debat, diskusi, argumentasi
secara akademik. Itulah yang mematangkan dan memperkaya modul tersebut
nantinya. Terima kasih bapak/ibu nara sumber, kami belajar banyak dari
pertemuan tiga hari tersebut. Khususnya juga kepada pa Ujang, tim Usaid Pusat yang mendampingi dengan seksama dan memberikan masukan serta koreksinya.






0 komentar:
Posting Komentar