Masih dalam usaha "maksa" untuk mendefinisikan, maka kurva adalah tempat kedudukan titik-titik dengan aturan tertentu yang bersifat kontinu. Banyak kurva yang sudah kita kenal, baik kurva tertutup maupun terbuka, sepeerti garis lurus, lingkaran, elips, parabola, hiperbola dan lain sebagainya.
Pada kesempatan ini, kita coba mengkaji kurva sederhana yang disebut kurva agnesi atau cycloida beserta pemanfaatannya. Kurva ini diberi nama sesuai dengan penemunya, Maria Gaetana Agnesi
Gambar 1: Peraga simulasi Jembatan Agnesi di Laboratorium Matematika FMIPA Unnes
Maria Gaetana Agnesi adalah seorang filsuf dan matematikawati
Italia. Ia dikenal karena bukunya yang terkenal tentang differential dan
integral calculus. Ia juga terkenal dengan kurva yang dikenal sebagai
versiera.
Maria Gaetana Agnesi lahir pada 16 Mei 1718 di kota Milan, Italia. Ia adalah anak tertua dari 21 bersaudara, ia dilahirkan dalam keluarga Italia kaya dan terpelajar dan mempunyai ayah seorang matematikawan. Beliau juga tercatat sebagai salah satu anggota kehormatan dari Universitas Bologna.
Maria Gaetana Agnesi lahir pada 16 Mei 1718 di kota Milan, Italia. Ia adalah anak tertua dari 21 bersaudara, ia dilahirkan dalam keluarga Italia kaya dan terpelajar dan mempunyai ayah seorang matematikawan. Beliau juga tercatat sebagai salah satu anggota kehormatan dari Universitas Bologna.
Suatu sumbangan kecil Maria yakni pembahasannya tentang kurva yang
dikenal sebagai versiera, yang berasal dari bahasa latin vertere yang
artinya membalik. Kurva tersebut dikenal sebagai kurva "sihir dari
Agnesi" karena versiera dalam bahasa Italia berarti Iblis betina.Kurva agnesi terbentuk dari sembarang titik pada llingkaran, dengan menggelindingkan lingkaran tersebut pada bidang datar, maka titik yang kita ambil tersebut akan membentuk path (lintasan) yang disebut kurva agnesi.
Gambar 2: Kurva Agnesi (berwarna merah) yang berasal dari sebuah titik pada lingkaran yang digelindingkan pada bidang datar
Kurva ini dimanfaatkan dalam arsitektur jembatan, yang dikenal dengan jembatan lengkung (Jembatan Arch).
Jembatan Arch (lengkung) merupakan jembatan yang memiliki penyangga di setiap ujung lengkungannya. Dasar kerja jembatan ini yaitu melalui transfer berat jembatan dan beban yang ada di atasnya menjadi dorongan horisontal yang dikendalikan oleh penyangga di kedua sisi. Beban jembatan didorong ke abutment pada kedua sisi. Hal inilah yang menjadikan kontruksi jembatan lengkung ini menjadi jembatan dengan konstruksi paling kuat. Negara jepang, China, dan Korea yang merupakan negara yang rawan bencana, khususnya gempa bumi, memanfaatkan kurva ini sebagai konstruksi jembatan. Terhitung sekitar 90 % jembatan pada negara-negara tersebut merupakan jembatan lengkung.
Jembatan Arch (lengkung) merupakan jembatan yang memiliki penyangga di setiap ujung lengkungannya. Dasar kerja jembatan ini yaitu melalui transfer berat jembatan dan beban yang ada di atasnya menjadi dorongan horisontal yang dikendalikan oleh penyangga di kedua sisi. Beban jembatan didorong ke abutment pada kedua sisi. Hal inilah yang menjadikan kontruksi jembatan lengkung ini menjadi jembatan dengan konstruksi paling kuat. Negara jepang, China, dan Korea yang merupakan negara yang rawan bencana, khususnya gempa bumi, memanfaatkan kurva ini sebagai konstruksi jembatan. Terhitung sekitar 90 % jembatan pada negara-negara tersebut merupakan jembatan lengkung.
Gambar 3: Jembatan Muarasabak di Kabupaten Tanjab Timur yang menghubungkan antara Kecamatan Muarasabak Barat dan Kecamatan Muarasabak Timur
Di Indonesia, kontruksi jembatan ini juga sudah mulai di gunakan. Contoh yang terbaru adalah Jembatan Muarasabak di Kabupaten Tanjab Timur yang menghubungkan antara Kecamatan Muarasabak Barat dan Kecamatan Muarasabak Timur
Kurva agnesi dalam dimensi yang lebih tinggi, yaitu pada dimensi 3 (ruang) ditunjukkan oleh telur. Struktur dan bentuk telor adalah suatu konstruksi yang kuat. Cobalah menekan (bukan di lempar atau dipukul seperti penjual nasi goreng lho...), maka kalian akan membuktikan kekuatan dari kurva agnesi pada struktur telur tersebut. Di youtube juga ada atraksi menginjak telor degan kedua kakinya, tetapi telor tersebut utuh, tidak pecah. Atau pernahkah kalian mendengar ada seekor ayam atau bebek yang mati karena telornya pecah dalam kandungan? padahal ada tekanan, remasan yang begitu besar dari usus.
Gambar 4: Kurva Agnesi atau Cycloida pada ruang dimensi tiga direpresentasikan oleh telur
Tidak hanya pada telor, Jepang juga sudah memanfaatkan kekuatan kurva ini (pada dimensi tiga) sebagai bentuk helm tentara jepang. Struktur dari kurva ini yang menjadikan helm ini tidak akan bisa ditembus oleh peluru dengan kecepatan berapapun. Peluru akan selalu dipantulkan.
Gambar 5: Kurva Agnesi atau Cycloida pada ruang dimensi tiga direpresentasikan oleh salahsatu jenis helm perang tentara Jepang
Satu kurva sederhana, kurva agnesi yang begitu besar manfaatnya. Masih banyak misteri dalam kurva-kurva lainnya yang belum tergali kebermanfaatanya. Tugas ilmuan-ilmuan generasi Andalah yang mengeksplorasinya....








0 komentar:
Posting Komentar