Artikel Terbaru
Mail Instagram Pinterest RSS

Hati-hati... Siswa Belajar Banyak dari Apa yang Dilihat


Siswa banyak belajar dari apa yang sering dilihat. Yang dilihat oleh mata akan diproses oleh mind menjadi suatu pengetahuan. Dengan sifat siswa yang jarang berani bertanya kepada guru, maka itu akan menjadi simpulan pada diri siswa yang dianggap benar tanpa ada klarifikasi dari seorang guru.

Saya contohkan begini, buku-buku pegangan siswa pada materi segitiga, biasanya menyajikan gambar segitiga dan ada simbol a dan t yang menandakan garis-garis tersebut adalah alas dan tinggi segitiga. Informasi ini dipertegas lagi oleh guru matematika dengan mengilustrasikan gambar yang sama di papan tulis ketika mengajarkannya. Jika guru tidak memberikan visuallisasi yang beragam, dan tidak ada penjelasan yang cukup, tidak ada tanya jawab dari siswa, maka simpulan yang ada pada benak siswa juga beragam, terutama berkenaan dengan alas dan tinggi suatu segitiga.

 Gambar 1: Ilustrasi visual dari pengajaran materi segitiga di papan tulis

Suatu saat saya memberikan soal sederhana pada mahasiswa tingkat satu, pada pertemuan pertama yang bertujuan untuk menggali informasi awal tentang pengetahuan dasar geometri mereka. Soal tersebut salahsatunya sebagai berikut.

Pada segitiga-segitiga di bawah ini, gambarkan garis tinggi dari masing-masing segitiga jika alas segitiga tersebut adalah sisi yang berlabel a.
Gambar 2: Salah satu problem yang diberikan untuk mengetahui pemahaman tentang segitiga


Sekali lagi, ini diberikan pada jenjang sarjana, bukan pada jenjang SD maupun SMP. Tetapi hasilnya sangat mengejutkan. Mahasiswa rata-rata hanya dapat melukiskan garis tinggi dengan benar hanya 2 dari 12 gambar yang disediakan. Dua segitiga tersebut salahsatunya adalah segitiga yang dibagian pojok kiri atas (gambar tersebut yang sering dilihat oleh siswa).
Yah, pengetahuan inilah yang dibawa ketika mereka belajar tentang segitiga pada jenjang yang lebih rendah, baik di SMP maupun di SD. Mindset yang terpolakan dan terbentuk tetapi belum sesuai dengan mathematical concept yang benar hasil dari apa yang sering dilihat oleh mata.

Dengan dasar itulah, maka soal yang sama saya coba berikan pada siswa SMP. Informasi yang sama juga saya dapatkan berkenaan dengan pemahaman tentang unsur-unsur pada suatu segitiga tersebut. Di bawah ini adalah contoh respon yang diberikan siswa, beserta analisanya

Gambar 3: Respon siswa 1

Pada gambar 3 di atas, mungkin siswa sering melihat di buku atau ketika guru memberikan pengajaran, kasus yang digambarkan adalah segitiga siku-siku. Sehingga simpulan dalam "benak siswa" dari gambar yang diberikan tersebut adalah dua sisi pada segitiga siku-siku tersebut berperan sebagai alas, dan lainya sebagai tinggi segitiga tersebut


 Gambar 4: Respon siswa 2

Gambar 5: Respon siswa 3

Lain halnya yang ditampilkan pada gambar 4 dan gambar 5. Secara parsial siswa mengamati bahwa tinggi adalah garis yag tegak lurus dengan alas. Tetapi simpulan yang ada dalam pikiran siswa ini belum lengkap. Siswa belum pernah melihat, bagaimana bentuk dan cara melukiskan garis tinggi pada segitiga tumpul.

Dengan menyadari hal ini (dan mungkin ini terjadi pada siswa bapak/ibu), maka perlihatkan secara lebih general, beragam, dengan berbagai alternatif visualisasi yang diberikan. Itu adalah usaha minimal yang diberikan, kalau memang siswa diharuskan untuk menyimpulan dengan usahanya sendiri melalui mata. Hal ini akan semakin baik, jika guru atau siapaun dapat menjelaskan, mengkomunikasikan dalam suatu proses pembalajarn dengan konsep-konsep yang sebenar-benarnya. 


0 komentar:

Posting Komentar