-
Kebanyakan siswa-siswi memiliki anggapan yang belum tepat ketika belajar
matematika. Mereka lebih berfokus kepada menghafalkan beragam rumus yang
ada. Atau guru juga merasa sudah cukup, jika siswa mereka sudah hafal rumus yang mereka ajarkan dan mampu mengerjakan soal yang diberikan. Memang menghafal penting di dalam mempelajari matematika, tetapi ada yang perlu ditambahkan, yakni pemahaman. Memahami makna yang masih tersebumbunyi dibalik rumus yang tertuliskan, akan menambah kekuatan dan kemampuan bermatematika siswa.
Sebagai ilustrasi, kita tahu bahwa materi segitiga sudah mulai dikenalkan di kelas 2 SD. Kelas tiga berlanjut, kelas 4 sampai kepada luas segitiga, dan diperdalam lagi pada kelas 5. Ternyata materi luas segitiga juga dipelajari lagi pada jenjang SMP. Saya yakin dengan sangat, bahwa ketika siswa ditanya tentang rumus luas segitiga, mereka akan menjawab dengan lancar.
Suatu segitiga ABC, dengan alasnya a, tingginya t, dan luasnya L, maka berlaku
Setelah menghafal rumus tersebut, maka siswa akan dapat dengan mudah meyelesaikan soal-soal seperti dibawah ini.
Yah soal seperti itu yang dapat dikerjakan dengan mudah. Soal yang sifatnya prosedural, soal yang sifatnya mekanikal. Hanya dengan mengaplikasikan rumus yang ada, masukkan angka-angka yang diketahui, maka problem tersebut sudah terselesaikan.
Tapi coba sodorkan contoh soal sederhana seperti berikut ini.
Contoh 1
Perhatikan gambar di bawah ini. ABCD adalah persegipanjang. Titik O adalah perpotongan diagonal-diagonalnya. Apakah segitiga AOC dan segitiga DOC memiliki luas daerah yang sama besar? Berikan penjelasan Anda.
Contoh 2
Lihat gambar di bawah ini. Garis g dan h adalah dua buah garis yang sejajar. Diantara segitiga ABC dan segitiga ABD, manakah yang memiliki luas lebih besar? Berikan penjelasan Anda.
Kebanyakan siswa kita akan terdiam, ragu dalam menjawab pertanyaan tersebut. Berbagai penjelasan yang diberikan oleh siswa juga tidak mendasarkan pada rumus yang telah mereka hafal. Yah mereka hanya hafal, belum memahami.
Ketika soal-soal tersebut dicooba diberikan kepada siswa, maka setidaknya siswa akan belajar dua hal
1. Membandingkan. Membandingkan luas dua buah segitiga. Artinya, ketika suatu segitiga dengan ukuran alas a dan ukuran tingginya t, dan luasnya L
yang mempengaruhi luasan daerah segitiga adalah ukuran alas dan tinggi. Dengan kata lain, jika ada dua buah segitiga dengan alas dan tingginya sama pada dua buah segitiga, maka luasnya juga akan sama besar, tidak peduli apakah bentuk segitiga tersebut sama atau tidak.
2. Berargumen. Siswa akan belajar berargumen, mempertahankan dan mempertanggungjawabkan pendapatnya, entah dengan intuisi, atau dengan apa yang mereka lihat dengan mata, atau memang dengan pemahaman matematika mereka.
-
Siswa banyak belajar dari apa yang sering dilihat. Yang dilihat oleh mata akan diproses oleh mind menjadi suatu pengetahuan. Dengan sifat siswa yang jarang berani bertanya kepada guru, maka itu akan menjadi simpulan pada diri siswa yang dianggap benar tanpa ada klarifikasi dari seorang guru.
Saya contohkan begini, buku-buku pegangan siswa pada materi segitiga, biasanya menyajikan gambar segitiga dan ada simbol a dan t yang menandakan garis-garis tersebut adalah alas dan tinggi segitiga. Informasi ini dipertegas lagi oleh guru matematika dengan mengilustrasikan gambar yang sama di papan tulis ketika mengajarkannya. Jika guru tidak memberikan visuallisasi yang beragam, dan tidak ada penjelasan yang cukup, tidak ada tanya jawab dari siswa, maka simpulan yang ada pada benak siswa juga beragam, terutama berkenaan dengan alas dan tinggi suatu segitiga.
Gambar 1: Ilustrasi visual dari pengajaran materi segitiga di papan tulis
Suatu saat saya memberikan soal sederhana pada mahasiswa tingkat satu, pada pertemuan pertama yang bertujuan untuk menggali informasi awal tentang pengetahuan dasar geometri mereka. Soal tersebut salahsatunya sebagai berikut.
Pada segitiga-segitiga
di bawah ini, gambarkan garis tinggi dari masing-masing segitiga jika alas segitiga
tersebut adalah sisi yang berlabel a.
Gambar 2: Salah satu problem yang diberikan untuk mengetahui pemahaman tentang segitiga
Sekali lagi, ini diberikan pada jenjang sarjana, bukan pada jenjang SD maupun SMP. Tetapi hasilnya sangat mengejutkan. Mahasiswa rata-rata hanya dapat melukiskan garis tinggi dengan benar hanya 2 dari 12 gambar yang disediakan. Dua segitiga tersebut salahsatunya adalah segitiga yang dibagian pojok kiri atas (gambar tersebut yang sering dilihat oleh siswa).
Yah, pengetahuan inilah yang dibawa ketika mereka belajar tentang segitiga pada jenjang yang lebih rendah, baik di SMP maupun di SD. Mindset yang terpolakan dan terbentuk tetapi belum sesuai dengan mathematical concept yang benar hasil dari apa yang sering dilihat oleh mata.
Dengan dasar itulah, maka soal yang sama saya coba berikan pada siswa SMP. Informasi yang sama juga saya dapatkan berkenaan dengan pemahaman tentang unsur-unsur pada suatu segitiga tersebut. Di bawah ini adalah contoh respon yang diberikan siswa, beserta analisanya
Gambar 3: Respon siswa 1
Pada gambar 3 di atas, mungkin siswa sering melihat di buku atau ketika guru memberikan pengajaran, kasus yang digambarkan adalah segitiga siku-siku. Sehingga simpulan dalam "benak siswa" dari gambar yang diberikan tersebut adalah dua sisi pada segitiga siku-siku tersebut berperan sebagai alas, dan lainya sebagai tinggi segitiga tersebut
Gambar 4: Respon siswa 2
Gambar 5: Respon siswa 3
Lain halnya yang ditampilkan pada gambar 4 dan gambar 5. Secara parsial siswa mengamati bahwa tinggi adalah garis yag tegak lurus dengan alas. Tetapi simpulan yang ada dalam pikiran siswa ini belum lengkap. Siswa belum pernah melihat, bagaimana bentuk dan cara melukiskan garis tinggi pada segitiga tumpul.
Dengan menyadari hal ini (dan mungkin ini terjadi pada siswa bapak/ibu), maka perlihatkan secara lebih general, beragam, dengan berbagai alternatif visualisasi yang diberikan. Itu adalah usaha minimal yang diberikan, kalau memang siswa diharuskan untuk menyimpulan dengan usahanya sendiri melalui mata. Hal ini akan semakin baik, jika guru atau siapaun dapat menjelaskan, mengkomunikasikan dalam suatu proses pembalajarn dengan konsep-konsep yang sebenar-benarnya.
-
Indonesian Science Fund tahun 2016 membuka aplikasi untuk pengajuan proposal penelitian dengan dana yang fantastis, 1,5 Milyar/tahun untuk jenis penelitian mutiyears selama 3 tahun. Sepertinya untuk orang matematika masih ada slot yang cocok untuk mengangkat tentang budaya, yaitu etnomatematika. Penelitian ini sangat dianjurkan untuk kolaborasi antar perguruan tinggi. Hayuk kita pelajari panduannya dan coba kita melakukan kolaborasi nasional...
Dibawah ini adalah panduaan untuk DIPI Research. Untuk yang berbahasa Indonesia, saya buat hanya untuk sedikit memudahkan dan mempercepat mengetahui apa yang diminta oleh DIPI, walaupun mungkin banyak yang tidak tepat sasaran terjemahannya. Besok saya sempurnakan lagi...
Panduan Berbahasa Indonesia, klik
di sini
Panduan Berbahasa Inggris, klik
di sini
-
Dalam matematika, sebuah kurva adalah suatu objek geometri yang merupakan satu-dimensi dan kontinyu. Definisi ini saya coba saya telusuri dari wikipedia. Mungkin definisi ini jauh dari sempurna, atau malah kurva memang tidak bisa didefinisikan dalam geometri, yang kita kenal dengan pernyataan pangkal seperti layaknya titik, garis, dan bidang.
Masih dalam usaha "maksa" untuk mendefinisikan, maka kurva adalah tempat kedudukan titik-titik dengan aturan tertentu yang bersifat kontinu. Banyak kurva yang sudah kita kenal, baik kurva tertutup maupun terbuka, sepeerti garis lurus, lingkaran, elips, parabola, hiperbola dan lain sebagainya.
Pada kesempatan ini, kita coba mengkaji kurva sederhana yang disebut kurva agnesi atau cycloida beserta pemanfaatannya. Kurva ini diberi nama sesuai dengan penemunya, Maria Gaetana Agnesi
Gambar 1: Peraga simulasi Jembatan Agnesi di Laboratorium Matematika FMIPA Unnes
Maria Gaetana Agnesi adalah seorang filsuf dan matematikawati
Italia. Ia dikenal karena bukunya yang terkenal tentang differential dan
integral calculus. Ia juga terkenal dengan kurva yang dikenal sebagai
versiera.
Maria Gaetana Agnesi lahir pada 16 Mei 1718 di kota Milan, Italia. Ia
adalah anak tertua dari 21 bersaudara, ia dilahirkan dalam keluarga
Italia kaya dan terpelajar dan mempunyai ayah seorang matematikawan.
Beliau juga tercatat sebagai salah satu anggota kehormatan dari
Universitas Bologna.
Suatu sumbangan kecil Maria yakni pembahasannya tentang kurva yang
dikenal sebagai versiera, yang berasal dari bahasa latin vertere yang
artinya membalik. Kurva tersebut dikenal sebagai kurva "sihir dari
Agnesi" karena versiera dalam bahasa Italia berarti Iblis betina.Kurva agnesi terbentuk dari sembarang titik pada llingkaran, dengan menggelindingkan lingkaran tersebut pada bidang datar, maka titik yang kita ambil tersebut akan membentuk path (lintasan) yang disebut kurva agnesi.
Gambar 2: Kurva Agnesi (berwarna merah) yang berasal dari sebuah titik pada lingkaran yang digelindingkan pada bidang datar
Kurva ini dimanfaatkan dalam arsitektur jembatan, yang dikenal dengan jembatan lengkung (Jembatan Arch).
Jembatan Arch (lengkung) merupakan jembatan yang
memiliki penyangga di setiap ujung lengkungannya. Dasar kerja jembatan
ini yaitu melalui transfer berat jembatan dan beban yang ada di atasnya
menjadi dorongan horisontal yang dikendalikan oleh penyangga di kedua
sisi. Beban jembatan didorong ke abutment pada kedua sisi. Hal inilah yang menjadikan kontruksi jembatan lengkung ini menjadi jembatan dengan konstruksi paling kuat. Negara jepang, China, dan Korea yang merupakan negara yang rawan bencana, khususnya gempa bumi, memanfaatkan kurva ini sebagai konstruksi jembatan. Terhitung sekitar 90 % jembatan pada negara-negara tersebut merupakan jembatan lengkung.
Gambar 3: Jembatan Muarasabak di Kabupaten Tanjab Timur yang menghubungkan antara Kecamatan Muarasabak Barat dan Kecamatan Muarasabak Timur
Di Indonesia, kontruksi jembatan ini juga sudah mulai di gunakan. Contoh yang terbaru adalah Jembatan Muarasabak di Kabupaten Tanjab Timur yang menghubungkan antara
Kecamatan Muarasabak Barat dan Kecamatan Muarasabak Timur
Kurva agnesi dalam dimensi yang lebih tinggi, yaitu pada dimensi 3 (ruang) ditunjukkan oleh telur. Struktur dan bentuk telor adalah suatu konstruksi yang kuat. Cobalah menekan (bukan di lempar atau dipukul seperti penjual nasi goreng lho...), maka kalian akan membuktikan kekuatan dari kurva agnesi pada struktur telur tersebut. Di youtube juga ada atraksi menginjak telor degan kedua kakinya, tetapi telor tersebut utuh, tidak pecah. Atau pernahkah kalian mendengar ada seekor ayam atau bebek yang mati karena telornya pecah dalam kandungan? padahal ada tekanan, remasan yang begitu besar dari usus.
Gambar 4: Kurva Agnesi atau Cycloida pada ruang dimensi tiga direpresentasikan oleh telur
Tidak hanya pada telor, Jepang juga sudah memanfaatkan kekuatan kurva ini (pada dimensi tiga) sebagai bentuk helm tentara jepang. Struktur dari kurva ini yang menjadikan helm ini tidak akan bisa ditembus oleh peluru dengan kecepatan berapapun. Peluru akan selalu dipantulkan.
Gambar 5: Kurva Agnesi atau Cycloida pada ruang dimensi tiga direpresentasikan oleh salahsatu jenis helm perang tentara Jepang
Satu kurva sederhana, kurva agnesi yang begitu besar manfaatnya. Masih banyak misteri dalam kurva-kurva lainnya yang belum tergali kebermanfaatanya. Tugas ilmuan-ilmuan generasi Andalah yang mengeksplorasinya....
-
Sekitar 100 mahasiwa dengan 15 dosen pendamping dari Universitas Lambung Mangkurat, belum lama ini berkunjung ke Laboratorium Matematika. Dalam waktu 3 jam kami berusaha menyuguhkan apa yang kami miliki di laboratorium. Yah laboratorum matematika FMIPA Unnes memiliki dua spot utama, yaitu laboratorium matematika (interior) dan taman matematika (Math Park). Spot kedua ini merupakan lokasi baru yang berada di halaman laboratorium matematika. Gagasan besar untuk menjadikan Jurusan Matematika sebagai kiblat dunia pendidikan matematika dan arena berwisata matematika yang melandasi di bangunnya Math Park ini. Salahsatu area yang ada di Math Park adalah Area Jembatan Königsberg .
Gambar 1: Hery Sutarto sedang memandu kunjungan dari Univeritas Lambung Mangkurat di Taman Matematika FMIPA Unnes
Gambar 2: Mahasiswi Universitas Lambung Mangkurat melakukan simulasi untuk memecahkan masalah Jembatan Königsberg
Pada kesempatan ini, mahasiswa diberikan waktu untuk mensimulasikan secara langsung masalah jembatan Königsberg secara bergantian dengan strategi yang berbeda-beda. Pengalaman inilah menjadi menarik dan menimbulkan kesan dari pengunjung. Apa yang dilakukan? yah, mahasiswa berusaha untuk menemukan cara untuk melalui semua jembatan dari titik awal, dan harus kembali ke titik awal tersebut. Sebagai penanda bahwa jembatan sudah dilalui, maka mahasiswa mengambil bendera di tengah jembatan ketika melalui jembatan tersebut.
Apakah Mereka dapat memecahkan masalah Jembatan Königsberg tersebut? Bagaimana penjelasannya?
Berikut penjelasan secara matematikanya
Permasalah Jembatan Konsberg merupakan masalah nyata. Pada abad ke-18, di Prussia, terdapat sebuah
kota yang bernama Königsberg. Kota ini sekarang bernama Kaliningrad,
Russia. Beberapa area kota Königsberg dipisahkan oleh sungai Pregel
sehingga untuk mencapai area kota yang lainnya penduduk harus berjalan
melalui jembatan yang jumlahnya ada tujuh.
Bertahun-tahun kemudian, timbul sebuah pertanyaan pada penduduk
Königsberg. Apakah bisa melalui semua jembatan hanya dengan satu kali
jalan? Seorang matematikawan asal Swiss, Leonhard Euler, berhasil
memecahkan teka-teki ini dengan menggunakan teori graf. Sebelum kita
memecahkannya, mari kita belajar sedikit mengenai teori graf dan
istilah-istilahnya.
Pertama-tama, kita sederhanakan gambar jembatan Königsberg.
Kedua, gambar jembatan Königsberg dapat disederhanakan lagi menjadi bentuk graf.
Ketiga, setelah disederhanakan menjadi bentuk graf, dapat dengan mudah diketahui terdapat:
- 4 titik, yaitu A, B, C, dan D,
- 4 titik berderajat ganjil, yaitu A, B, C, dan D,
- tidak ada titik yang berderajat genap.
Dengan demikian, dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa jembatan Königsberg ini bukanlah lintasan Euler sehingga tidak dapat dilintasi hanya dengan satu kali jalan.
-
PKM tidak hanya singkatan dari Program Kreativitas Mahasiswa, tetapi PKM juga merupakan singkatan dari Pintu Kesukesan Mahasiswa. Hal ini disampaikan dalam Lokakarya PKM 5 Bidang yang diadakan oleh Kelompok Ilmiah Matematika dengan pemateri Hery Sutarto. Dikatakan lebih lanjut, banyak mahasiswa sukses ketika menggeluti PKM, baik ketika masih menjadi mahasiswa maupun ketika sudah lulus nantinya. Bagaimana mahasiswa berlatih melakukan riset, dan melaporkanya sebagai ajang latihan menuliskan tugas akhir, yang tentunya diluar keuntungan finansial yang dibilang sangat cukup bagi mahasiswa. Itu sekelumit bagian awal presentasi untuk memotivasi mahasiswa.
Presentasi dilanjutkan dengan menanyakan hal yang tak terduga kepada mahasiswa
"Siapa yang ingin masuk surga?", secara serentak seluruh peserta mengacungkan tangan. "Apa yang Anda lakukan untuk bisa masuk surga?", berbagai jawaban dan argumentasi diperdengarkan. "kita harus memiliki pedoman hidup untuk di dunia maupun di akhirat, yaitu Al Quran. Tidak hanya memiliki, tetapi dibaca, dipahami maknanya, dan dimplementasikan dalam kehidupan".
"Siapa yang ingin PKM nya lolos di danai, atau siapa yang ingin PKM nya lolos PIMNAS 2017?", secara serentak untuk yang kedua kalinya peserta mengacungkan tangannya, menandakan semua peserta berkeinginan akan hal tersebut. "Apa yang harus Anda lakukan" tanya pemateri. "membuat proposal", jawab peserta. "Itu nanti, langkah ke sekian. Yang pertama harus anda lakukan adalah miliki buku panduan PKM, baca dan ikuti semua yang ada dalam panduan tersebut sesuai dengan jenis PKM yang Anda pilih. Propsal yang dibuat sebagus apapun, jika tidak sesuai dengan panduan, maka tidak akan lolos seleksi pertama yaitu seleksi adminitratif. Coba kalian samakan, jika Anda melakukan perbuatan yang tidak sesuai dengan Al Quran sebagai pedoman hidup, apakah Anda akan masuk surga..? tentu tidak... yang ada adalah masuk neraka, karena berada dalam jalan yang sesat.
Setelah itu, satu persatu jenis PKM, mulai PKM Penelitian, PKM Kewirausahaan, PKM Pengebdian Kepada Masyarakat, PKM Karya Cipta dan PKM Teknologi dibahas secara detail. Bagaimana menemukan ide dengan peka terhadap isu-isu di lingkungan sekitar, merupakan akhir dari prresentasi di lokakarya tersebut. Silahkan Anda dapat mengunduh materi tersebut di bawah ini.
Dokumen unduhan materi PPT
Dokumen unduhan materi PPT dalam pdf.
-
Foto 1: Full Team Work
penyusun Adaptasi Modul Sekolah Praktik yang Baik dalam Lokakarya Nasional
USAID PRIORITAS
Tidak jarang masih ada gap
antara mathematics conception dan teacher conception. Jika yang terjadi
demikian maka kita sebut misconception (miskonsepsi).
Miskonsepsi yang terjadi pada guru yang
kemudian di sampaikan dalam proses pembelajaran di dalam kelas, maka terjadilah
mistake. Jika hal ini dibiarkan terus
menerus terjadi error pengetahuan
yang diperoleh oleh siswa.
Gambar 1: misconception, mistake, and error dalam proses pembelajaran
USAID PRIORITAS melihat ini sebagai suatu yang menggangu terhadap pencapaian pendidikan di Indonesia. Melalui kegitan Lokakarya Nasional, Adaptasi Modul
Praktik yang Baik yang berlangsung di Makasar dari tanggal 1-3 Juni 2016 dengan
nara sumber dari berbagai propinsi di Indonesia. Produk yang
dihasilkan dari lokakarya tiga hari ini adalah modul yang berbasis kontent
matematika yang pilihan kemunculannya bisa berasal dari (1) miskonsepsi yang
masih sering terjadi di dalam proses pembelajaran atau (2) kesulitan-kesulitan
yang dialami oleh guru dalam pembelajaran suatu topik matematika.
Sebagai ilustrasi masih banyaknya miskonsepsi yang terjadi, berikut contoh kasus di lapangan sekaligus gambaran proses kerja penyusunan modul yang terjadi selama lokakrya.
Gambar 2: contoh problem yang menunjukkan terjadinya miskonsepsi tentang garis tinggi segtiga
Ketika problem ini coba diberikan pada jenjang mahasiswa
matematika tingkat pertama, hasilnya sangat mengejutkan. Mereka hanya bisa
melukiskan garis tinggi dengan benar hanya 1 sampai 2 dari 12 gambar segitiga yang
disediakan, yaitu pada gambar pada pojok kiri atas. Hal yang sama juga terjadi ketika problem tersebut diberikan pada siswa jenjang SMP. Analisis kenapa bisa terjadi demikian, disajikan pada temuan-temuan di bawah ini.
Tim penyusun mencari di mana pangkal kesalahan sehingga terjadi hal demikian. Dalam ilustrasi di atas, temuannya mengerucut pada dua penyebab.
1. Buku-buku pegangan siswa dalam ilustrasinya
hanya menampilkan seperti pada gambar di bawah ini.
Gambar 3: Ilustrasi yang disajikan dalam buku pegangan siswa atau oleh guru yang membentuk mindset dalam diri siswa
Ditambah lagi jika guru dalam kelas
mengilustrasikan hal yang sama di papan tulis.
Mindset yang tertanam dalam siswa
kecenderungannya akan mengikuti dengan apa yang sering dilihat. Banyak kemungkinan yang disimpulkan dalam
benak siswa. Sebagai contoh, alas selalu di bawah, tinggi adalah garis yang
vertikal, dan selalu dalam interior segitiga, di tengah atau hampir di tengah untuk titik D. Siswa akan dibingungkan jika segitiga yang ditampilkan adalah segitiga tumpul, karena memang belum pernah dilihatkan dalam buku atau dalam pembelajaran oleh guru di kelas. Siswa akan bingung jika alasnya bukan sisi yang berada di bagian bawah.
2. Definisi yang diberikan kurang lengkap.
Berikut definisi yang diberikan oleh buku-buku pegangan siswa
Garis Tinggi Segitiga
adalah garis yang melalui salah satu titik sudut segitiga dan
tegak lurus dengan sisi di depannya.
Tim penyusun merasakan definisi tersebut belum lengkap. Karena belum mengakomodasi untuk segitiga tumpul. Hal ini mengakibatkan siswa akan dibingungkan jika bertemu dengan segitiga tumpul, dalam
melukiskan garis tingginya. Yang terjadi adalah "pemaksaan-pemaksaan" seperti pada segitiga lancip yang sering dilihat oleh siswa.
Tahap berikutnya adalah mencarikan solusi,
sehingga dalam proses pembelajaran miskonsepsi dan kesalahan seperti ini dapat
dihilangkan, yaitu dengan penguatan pada konten (mathematics content). Harapnnya, dengan kuatnya konten matematika, benarnya konsep matematika pada guru, maka misconception and mistake tidak akan terjadi lagi dalam pembelajaran matematika.
Penyusun modul terbagi dalam dua kelompok, yaitu tim
penyusun modul adaptasi untuk jenjang SD yang difasilitasi oleh pa Asdar dari
Universitas Negeri Makasar, dan bu Ika dari Universitas Negeri Surabaya.
Sedangkan tim penyususn modul adaptasi jenjang SMP di
fasilitasi oleh pa Hery dari Universitas Negeri Semarang dan pa Asep dari
Universitas Pendidikan Indonesia.
Masing-masing jenjang setidaknya meghasilkan 8 topik pilihan
dalam modul tersebut yang nantinya akan di
modelkan oleh fasilitator dalam sesi pelatihan dengan guru-guru sekolah mitra
USAID PRIORITAS.
Dalam proses pembuatan terjadi debat, diskusi, argumentasi
secara akademik. Itulah yang mematangkan dan memperkaya modul tersebut
nantinya. Terima kasih bapak/ibu nara sumber, kami belajar banyak dari
pertemuan tiga hari tersebut. Khususnya juga kepada pa Ujang, tim Usaid Pusat yang mendampingi dengan seksama dan memberikan masukan serta koreksinya.